Hujan turun sejak pagi. Devlan, seorang pemuda desa di Sumatera, berdiri di depan rumahnya sambil melihat langit yang gelap. Awalnya hujan itu tidak membuatnya khawatir. Namun, menjelang sore, air sungai di dekat rumah mulai naik dan masuk ke halaman warga.
“Bu, airnya masuk ke rumah,” kata Devlan dengan suara gemetar.
Ibu segera menggendong adiknya, sementara Ayah menyelamatkan beberapa barang penting. Air terus naik, pohon-pohon tumbang, dan jalan desa rusak. Banyak warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Malam itu, Devlan dan keluarganya berkumpul di balai desa yang dijadikan tempat pengungsian. Suasana gelap dan sunyi. Beberapa warga menangis karena rumah mereka terendam banjir.
“Ini semua karena hujan deras,” kata seorang warga.
“Alam memang tidak bisa disalahkan,” jawab warga lain.
Di sudut ruangan, Pak Sukmo, seorang bapak tua, berdiri pelan.
“Alam tidak marah tanpa sebab. Kita yang sering lupa menjaga,” katanya dengan suara tenang.
Devlan terdiam. Ia teringat bukit di belakang desa yang kini gundul karena pohon-pohon ditebang. Dulu hijau, kini hanya tanah cokelat. Saat itu, ia mengerti bahwa bencana ini bukan datang tiba - tiba. Devlan dan warga lain mulai sadar bahwa bencana ini bukan hanya karena hujan, tetapi juga karena perbuatan manusia.
Sejak hari itu, Devlan belajar satu hal penting. Alam harus dijaga, bukan dirusak. Jika manusia serakah, alam akan memberi peringatan. Dan jika peringatan itu diabaikan, bencana akan datang tanpa memilih siapa pun.